Apa kabar kamu yang dahulu selalu hadir dalam lantuan sajakku kepada sang Pencipta. Yang dahulu bibirku tak pernah henti mengisyaratkan namamu di hadapan-Nya. Seraya berandai tentang drama indah antara hati ku dan kamu.
Apa kabar hatimu?
Masih belum cukup lunakkah dia sekarang, atau malah sudah mencapai puncak kekokohan terhebat. Tak taulah, aku hanya mampu menerka dalam diam kita yang tak berujung ini. Menerka keadaanmu yang kemarin serasa begitu nyata dalam mimpiku
Berbulan bulan mataku menahan rindu untuk menatapmu. Meski pun kita masih berada di langit yang sama. Namun, hasrat mataku masih sangat sulit untuk merealisasikan semua harapku. Terlalu jauh untuk kudekatkan.
Sempat terbersit sebuah pertemuan yang kamu harapkan. Tetapi, Andaimu kembali kuuji dengan penolakkan yang tak beralasan dari sisi lain hatiku. Entahlah, penyesalan selalu menggelayutiku takkala ucapku telah merambat menuju telingamu. Dan aku tau, tak hanya aku yang terkurung dalam penyesalan, hatimu pun juga telah terperangkap dalam kekecewaan.
Kini, tak hanya ragamu, suaramu bahkan tulisanmu pun tak mampu lagi mataku untuk menangkapnya. Hanya rekaman buram kenangan yang sering kali terputar di dalam otakku ketika angin rindu itu menyentuh lembut hatiku.
Apa kabar, apa kah kamu juga merindukanku?
Haruskah aku kembali mendekapmu dalam doa panjang di penghujung malamku. Sedang disana aku pun tak tau apa yang kamu lakukan. Apa kamu masih menyisipkan bayanganku ketika malam mulai menyelimutimu.
Mengenangku saat Tuhan mulai menugaskan malaikat untuk membasahi bumi-Nya. Ketika itu, pikirku terpusat padamu. Apakah kamu juga?
Sayangnya aku bukan malaikat yang mampu mengetahui segala yang terjadi di dunia. Terlebih kamu. Aku hayalah Hambanya yang lemah dan kurang.
Bisaku hanya menduga keadaanmu.
Berharap tangan-Nya selalu membelai lembut dalam perjalan hidupmu.
Sebab hanya harap yang kupunya. Hanya doa yang mampu ku persembahkan kepada engkau yang sedang hatiku rindukan.
Kelak jika telah sampai pada babak dimana kita dipertemukan dalam ketidak sengajaan, disaat itu mataku telah terobati akan rindu yang membara ini. Meski aku tak tahu dalam situasi apa kita dipertemukan oleh-Nya.
Selayaknya dahulu, aku hanya mampu menunggu skenario indah yang dihadapkan-Nya untuk kita . Tak tau, kisah ini akan berakhir seperti apa. Kita masih terbelenggu dalam kepasrahan. Aku dan kamu ….
Apa kabar hatimu?
Masih belum cukup lunakkah dia sekarang, atau malah sudah mencapai puncak kekokohan terhebat. Tak taulah, aku hanya mampu menerka dalam diam kita yang tak berujung ini. Menerka keadaanmu yang kemarin serasa begitu nyata dalam mimpiku
Berbulan bulan mataku menahan rindu untuk menatapmu. Meski pun kita masih berada di langit yang sama. Namun, hasrat mataku masih sangat sulit untuk merealisasikan semua harapku. Terlalu jauh untuk kudekatkan.
Sempat terbersit sebuah pertemuan yang kamu harapkan. Tetapi, Andaimu kembali kuuji dengan penolakkan yang tak beralasan dari sisi lain hatiku. Entahlah, penyesalan selalu menggelayutiku takkala ucapku telah merambat menuju telingamu. Dan aku tau, tak hanya aku yang terkurung dalam penyesalan, hatimu pun juga telah terperangkap dalam kekecewaan.
Kini, tak hanya ragamu, suaramu bahkan tulisanmu pun tak mampu lagi mataku untuk menangkapnya. Hanya rekaman buram kenangan yang sering kali terputar di dalam otakku ketika angin rindu itu menyentuh lembut hatiku.
Apa kabar, apa kah kamu juga merindukanku?
Haruskah aku kembali mendekapmu dalam doa panjang di penghujung malamku. Sedang disana aku pun tak tau apa yang kamu lakukan. Apa kamu masih menyisipkan bayanganku ketika malam mulai menyelimutimu.
Mengenangku saat Tuhan mulai menugaskan malaikat untuk membasahi bumi-Nya. Ketika itu, pikirku terpusat padamu. Apakah kamu juga?
Sayangnya aku bukan malaikat yang mampu mengetahui segala yang terjadi di dunia. Terlebih kamu. Aku hayalah Hambanya yang lemah dan kurang.
Bisaku hanya menduga keadaanmu.
Berharap tangan-Nya selalu membelai lembut dalam perjalan hidupmu.
Sebab hanya harap yang kupunya. Hanya doa yang mampu ku persembahkan kepada engkau yang sedang hatiku rindukan.
Kelak jika telah sampai pada babak dimana kita dipertemukan dalam ketidak sengajaan, disaat itu mataku telah terobati akan rindu yang membara ini. Meski aku tak tahu dalam situasi apa kita dipertemukan oleh-Nya.
Selayaknya dahulu, aku hanya mampu menunggu skenario indah yang dihadapkan-Nya untuk kita . Tak tau, kisah ini akan berakhir seperti apa. Kita masih terbelenggu dalam kepasrahan. Aku dan kamu ….






0 komentar:
Post a Comment
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA :)